Ketika saya tidak bisa menyampaikan sesuatu kepada seseorang, beberapa orang atau berbagai orang InsyaAllah saya bisa menyampaikannya disini walau tidak semuanya. Karena saya masih memiliki hati untuk menyimpan segala perasaan.
take what happened as a lesson
Jumat, 23 November 2012
Sedikit Cerita Tentang Hidup Saya
Jumat, 23 November 2012. Didalam kelas, mata kuliah Studi Masyarakat Melayu.
Dosen masuk ke kelas sekitar puku 10.30
dosen: hari ini saya tidak bisa masuk lama. karena bapak...alimin..siregar......meninggal dunia... jadi nanti mau melayat
saya: INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROJI'UUN
gimana saya gak kaget dan gak percaya, saya sudah lama tidak mendengar kabar beliau, sekalinya ada kabar namun berisi duka
dulu, saat saya semester 1, saya ngambil mata kuliah dasar-dasar politik dengan beliau, DR. Alimin Siregar. pertemuan pertama, suasana kelas sangat tegang, padahal ini baru kontrak kuliah. namun dari cara beliau menjelaskan, berbicara, berpendapat, sudah bisa disimpulkan bahwa beliau orang yang serius, idealis dan sangat blak-blakan. dia orang yang santai menyampaikan unek-unek akan tugas mahasiswa yang copy paste (dan menganjurkan tiap pertemuan ada tugas membuat jurnal dan tidak boleh ada yang protes), kritik tentang fakultas yang kaya tapi menganggap jurnal online mahal dan mengkritik sistem yang menurutnya salah, dan tentang apa saja.
namun yang paling menarik adalah ketika dia menekankan mahasiswa untuk banyak membaca dan menulis. disaat dia bertanya, "ada yang bawa buku tidak? buku apa saja, terserah." saya diam saja karena menurut saya pasti ada yang akan memberikannya dan tidak berniat untuk mengeluarkan buku novel yang ada didalam tas saya. setelah agak lama dan tidak ada tanda-tanda ada mahasiswa yang memenuhi permintaan bapak itu, saya akhirnya mengeluarkan buku saya dan memberikan buku itu padanya, alasan saya sangat kuat karena ingin mengetahui apa yang akan dilakukan bapak itu dengan sebuah buku. hipotesa yang saya miliki adalah beliau akan mengetahui isi cerita buku saya itu tanpa harus dibaca dengan waktu yang lama. ternyata tidak. tapi beliau menjelaskan bagaimana cara penulisan daftar pustaka yang benar dan buku saya dijadikan contoh -__-" namun beliau juga membahas tata cara penulisan yang benar. disaat dia masih memegang buku saya, dia bertanya, "kamu berapa hari menyelesaikan ini? saya 1 jam (saya lupa bapak itu jawab berapa lama, yang jelas lebih cepat dari rekor saya membaca novel yang setebal buku itu sekitar 3 jam). berapa lama?" saya jawab sambil cengengesan, "2 atau 3 hari, pak, tergantung waktu luang."
saya percaya, secara bacaan beliau pasti jurnal-jurnal, tesis, buku2 idealisme. dan setelah itu dia menjelaskan sistem kuliah yang mengharuskan tiap pertemuan membuat paper (menurut saya itu bisa disebut jurnal mini) dan tidak boleh plagiat. dia sangat mencaci yang namanya plagiat. "saya akan tau mana yang mengambil dari internet dan tanpa memberi sumber." tidak ada satupun mahasiswa yang berbicara ataupun berbisik, namun semuanya mempunyai ekspresi yang sama, yang tidak bisa dijelaskan.
minggu depannya, terdapat 10 orang mahasiswa dikelas yang sama pada minggu lalu yang berjumlah 20an orang. banyak mahasiswa yang pindah kelas termasuk saya dan lima teman saya.
maafkan kami, pak. mahasiswa yang tidak bisa menerima perubahan. mahasiswa yang tidak serius menjalankan tugasnya sebagai agent of change. orang seperti bapak lah yang akan membenarkan segala sistem yang telah rusak di negara ini. namun kami mahasiswa hanya berfikir untuk kesenangan semata.
semenjak semester satu itu, saya sudah jarang bahkan mungkin hanya dua atau tiga kali melihatnya dikampus, hanya sambil lalu. dan sekarang saya sudah semester tiga, jangankan diajar olehnya, kesempatan untuk melihatnya pun sudah tidak ada. Saya berdoa surga dan kedamaian untuknya disamping Allah.
Suasana dikelas tidak terlalu heboh karena memang mungkin tidak pernah diajar oleh bapak itu, karena beliau dosen HI. saya dan teman2 masih agak kaget tidak percaya. saya merinding denga cukup lama.
ulul: baru tadi malam papa aku jenguk bapak itu
saya: sakit apa lul?
ulul: dia cuci darah
saya: (gak bisa berkata-kata dan makin merinding antara sedih, sesal, dan pengen nangis, karena saya sudah bisa menebak sakitnya)
ulul: haa gagal ginjal
dan saya hanya diam selama dikelas dan berusaha mengingat momen tentang dia, walaupun itu susah, karena baru sekali ia berbicara langsung didepan saya.
mungkin orang yang sangat bisa diandalkan, yang sangat berpengaruh bagi hidup banyak orang itu Allah memberikan umur yang singkat agar bisa lama menikmati surga-Nya.
Om, oom dapet teman tuh yang sama-sama dibilang gula dan gagal ginjal sama dokter. padahal itu sih memang takdir ya kan. memanglah manusia..
tapi, pak alimin lebih muda dari oom, keliatannya sih oom yang muda hehehe beneran
besok2 deh saya masukin foto kalian berdua.
buat oom: om, ni rinduuuuuuuuuuu :)
buat pak alimin: selamat menempuh hidup yang sesungguhnya pak. semoga tenang dan damai disisi-Nya. maaf pak, sampai sekarang, saya masih belum menamatkan buku yang pernah bapak pinjam itu hehehe lucu, saya juga gak tau kenapa.
Kamis, 15 November 2012
Andai Diam Menjadi Kediaman
Anda Diam Menjadi Kediaman
Diam..
Waktu selalu mengajarkanku bersabar
Bersabar untuk menyelesaikan sisa-sisa hidup
Berdiam diri adalah cara bagaimana aku menenangkan diri dan berdamai dengan kenyataan
Tapi seringnya hanya memupuk emosi dan melupakan permasalahan
Pernah kukatakan bahwa diamku adalah senjataku menahan emosi marahku terhadap apa saja
Karena menurutku diam lebih baik daripada meluapkan melalui kata-kata
Dengan diamku, maka dibutuhkan insting kedekatan seseorang agar lebih mengerti tanpa harus disampaikan
Andai di depan diam ditambah awalan ke- dan akhiran -an
Kediaman..
Tempat yang memiliki kehangatan tertentu
yang didalamnya terdapat keluarga, penuh dengan kasih sayang dan pada akhirnya adalah tempat yang nyaman bagi kita
Diam tidak akan bisa senyaman kediaman
Diam hanya penuh dengan tumpukan emosi yang tak tersampaikan
Diamku adalah pikiran bagimu
Diamku adalah masalah bagimu
tak akan pernah diamku menjadi hal yang nyaman bagi siapa saja
Diamku bukanlah kediaman
Diamku adalah rambu-rambu bahaya bagimu
Diamku adalah maafmu
Diamku adalah kamu yang mengobatinya
Karena diamku adalah sakitku
Jangan pernah membuatku diam terlalu lama
Membuat diam berubaha menjadi benci
Langganan:
Komentar (Atom)