apa yang kamu miliki sekarang belum tentu kelak akan tetap bersamamu.
jangan menggantungkan segala sesuatunya kepada orang lain yang belum tentu setia kepadamu.
jangan terbuka lebar untuk berbagai pilihan.
pilihan yang menguntungkan, atau yang menyesatkan.
silakan pilih.
gunakan hatimu.
jika tidak ada, gunakan otakmu.
jika tidak ada gunakan instingmu.
hanya satu yang tidak boleh kamu gunakan,
NAFSUMU..
dulu, kakak saya tercinta tiba-tiba mengirim pesan yang intinya berisi; "kak mita bangga punya orangtua kayak mama dan papa yang udah ngajarin kita untuk hidup sederhana.."
simple emang.. orangtua mana yang tidak mengajarkan hal-hal positif kepada anaknya. namun, ajaran orangtua itu terlaksana atau tidaknya dapat dilihat dari anaknya. mungkin bagi saya pribadi, saya dan saudara-saudara kandung saya yang lain kami lebih baik daripada kebanyakan anak jaman sekarang. tapi tidak selamanya hidup itu penuh perbandingan. saya sendiri masih jauh dari kesederhanaan itu. walaupun setidaknya, saya masih dapat berpikir bagaimana cara agar tidak mengecewakan orangtua dan membahagiakan mereka.
kecewakah orangtuamu saat kalian lebih sering menuntut materi daripada perhatian dan nasihat? jika iya, kamu masih menjadi orang yang beruntung di dunia ini. jika tidak, berubahlah. berpikirlah untuk ke depan.
materi bukanlah sebuah target diri, tapi kehancuran pribadi.
target kita adalah hidup dengan bahagia, bukan karena materi.
Ketika saya tidak bisa menyampaikan sesuatu kepada seseorang, beberapa orang atau berbagai orang InsyaAllah saya bisa menyampaikannya disini walau tidak semuanya. Karena saya masih memiliki hati untuk menyimpan segala perasaan.
take what happened as a lesson
Senin, 19 Desember 2011
Senin, 05 Desember 2011
What I Feel
Waktu bergerak, suasana berubah, perasaan tak lagi sama.
Dulu itu galau karna cowok. Iya, cowok. Konyol, ah rasanya. Tapi sekarang itu galau karna hal yang lebih konyol dari seorang cowok.
Saya gak bisa menyebutkannya. Saya selalu berusaha untuk membatasi privasi saya dengan dunia maya. Seperti headblog saya, saya akan selalu mencurahkan perasaan saya di blog ini, tapi tidak semuanya. Karna saya masih mempunyai hati yang tempat menyimpan segala perasaan.
Mau tau perasaan saya lebih mendalam? Ketik HATI spasi SAPI kirim ke 14045.. Ah gampang, untuk mengetahui perasaan saya, pintu hati saya selalu terbuka kok. Eaaaaa #modus
Dulu itu galau karna cowok. Iya, cowok. Konyol, ah rasanya. Tapi sekarang itu galau karna hal yang lebih konyol dari seorang cowok.
Saya gak bisa menyebutkannya. Saya selalu berusaha untuk membatasi privasi saya dengan dunia maya. Seperti headblog saya, saya akan selalu mencurahkan perasaan saya di blog ini, tapi tidak semuanya. Karna saya masih mempunyai hati yang tempat menyimpan segala perasaan.
Mau tau perasaan saya lebih mendalam? Ketik HATI spasi SAPI kirim ke 14045.. Ah gampang, untuk mengetahui perasaan saya, pintu hati saya selalu terbuka kok. Eaaaaa #modus
Minggu, 04 Desember 2011
Tekad
Untuk pertama kalinya saya bercerita tentang kegiatan organisasi yang saya ikuti. Kenapa gak pernah saya curhat tentang organisasi? Karna gak ada waktu. Titik.
Udah dua hari berturut-turut saya ikut diklat jurnalistik yang diadakan oleh Tekad. Apa itu Tekad? Tekad adalah satu-satunya organisasi yang saya ikuti. Dimana organisasi ini menunjang bakat kita didalam media masa. Apa alasan saya mengikuti Tekad? Karena saya menyukai dunia kata. Saya ingin tulisan-tulisan saya dibaca. Saya ingin bakat saya keluar. Saya ingin menjadi orang yang lebih percaya diri dengan karyanya. Bukan hanya diri saya, tapi karya saya juga ingin dihargai.
Saya baru aja pulang dari acara Diklat Jurnalistik yang diadakan Tekad. Di hari pertama acaranya memang sedikit atau bahkan membosankan. Namun di hari kedua baru keluar dah tu serunya acara. Dihari kedua ini seharusnya kami pergi mengunjungi media percetakan Koran riau, tapi ternyata ada kendala dan batal. Hampa rasanya diklat jurnalistik tanpa kunjungan media itu. Panitia menggantikannya dengan membuat game di taman kota. Seru! Kami dibagi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok disuruh membuat tabloid/majalah/Koran atau rubric apapun. Kelompok saya membuat majalah yang konsisten membahas tentang lingkungan.
Kalo dari segi hasil tabloid saya memang optimis, tapi dari segi yel-yel dan kehebohan saya teramat sangat pesimis. Eh taunya di ujung acara, kelompok saya mendapat award sebagai kelompok terbaik. Asli, shock abis! Karena menurut saya ada kelompok yang lebih seru dan mungkin pantas untuk menang. Setelah acara selesai saya curhat tentang kepesimisan saya dan dia bilang, “Tadi Kak Aristra (panitia) bilang kelompok kau bagusnya di hasil kerjanya.”
Sumpah lega..
Awal acara dihari kedua itu, mood saya sempat terombang-ambing entah mengapa, namun mood kembali normal setelah saya mendapat award sebagai peserta dengan tulisan terbaik bertemakan Green Jurnalism. Ada empat pemenang dari kategori itu, dan nama saya dibacakan paling akhir. Judul berita karangan saya itu mikirnya mampus-mampusan. Karena dengan waktu yang terbatas, otak otomatis buntu seketika. Tapi saya gak pernah nyerah untuk memikirkan judul yang terbaik. Menurut saya dari dari judullah pertama kali timbul persepsi baik pembaca tentang berita kita. Dan akhirnya terpikirkan judul “Kesadaran Hilang, Lingkungan Melayang” OKE, FIX! Dan membuahkan hasil. Alhamdulillah.
Dengan mendapat apresiasi dari diklat ini, membuat saya termotivasi untuk terus belajar dan terus berkarya. Setelah ini, saya ingin memaparkan target yang ingin saya capai berhubungan dengan jurnalistik. Saya ingin, bukan hanya badan saya yang terus kembang tetapi juga karya saya. Amin. :’)
Udah dua hari berturut-turut saya ikut diklat jurnalistik yang diadakan oleh Tekad. Apa itu Tekad? Tekad adalah satu-satunya organisasi yang saya ikuti. Dimana organisasi ini menunjang bakat kita didalam media masa. Apa alasan saya mengikuti Tekad? Karena saya menyukai dunia kata. Saya ingin tulisan-tulisan saya dibaca. Saya ingin bakat saya keluar. Saya ingin menjadi orang yang lebih percaya diri dengan karyanya. Bukan hanya diri saya, tapi karya saya juga ingin dihargai.
Saya baru aja pulang dari acara Diklat Jurnalistik yang diadakan Tekad. Di hari pertama acaranya memang sedikit atau bahkan membosankan. Namun di hari kedua baru keluar dah tu serunya acara. Dihari kedua ini seharusnya kami pergi mengunjungi media percetakan Koran riau, tapi ternyata ada kendala dan batal. Hampa rasanya diklat jurnalistik tanpa kunjungan media itu. Panitia menggantikannya dengan membuat game di taman kota. Seru! Kami dibagi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok disuruh membuat tabloid/majalah/Koran atau rubric apapun. Kelompok saya membuat majalah yang konsisten membahas tentang lingkungan.
Kalo dari segi hasil tabloid saya memang optimis, tapi dari segi yel-yel dan kehebohan saya teramat sangat pesimis. Eh taunya di ujung acara, kelompok saya mendapat award sebagai kelompok terbaik. Asli, shock abis! Karena menurut saya ada kelompok yang lebih seru dan mungkin pantas untuk menang. Setelah acara selesai saya curhat tentang kepesimisan saya dan dia bilang, “Tadi Kak Aristra (panitia) bilang kelompok kau bagusnya di hasil kerjanya.”
Sumpah lega..
Awal acara dihari kedua itu, mood saya sempat terombang-ambing entah mengapa, namun mood kembali normal setelah saya mendapat award sebagai peserta dengan tulisan terbaik bertemakan Green Jurnalism. Ada empat pemenang dari kategori itu, dan nama saya dibacakan paling akhir. Judul berita karangan saya itu mikirnya mampus-mampusan. Karena dengan waktu yang terbatas, otak otomatis buntu seketika. Tapi saya gak pernah nyerah untuk memikirkan judul yang terbaik. Menurut saya dari dari judullah pertama kali timbul persepsi baik pembaca tentang berita kita. Dan akhirnya terpikirkan judul “Kesadaran Hilang, Lingkungan Melayang” OKE, FIX! Dan membuahkan hasil. Alhamdulillah.
Dengan mendapat apresiasi dari diklat ini, membuat saya termotivasi untuk terus belajar dan terus berkarya. Setelah ini, saya ingin memaparkan target yang ingin saya capai berhubungan dengan jurnalistik. Saya ingin, bukan hanya badan saya yang terus kembang tetapi juga karya saya. Amin. :’)
Langganan:
Komentar (Atom)