World of Words
Ketika saya tidak bisa menyampaikan sesuatu kepada seseorang, beberapa orang atau berbagai orang InsyaAllah saya bisa menyampaikannya disini walau tidak semuanya. Karena saya masih memiliki hati untuk menyimpan segala perasaan.
take what happened as a lesson
Sabtu, 27 Juli 2013
Egois, maybe.
Mungkin saat ini udah puncak dari semuanya. Rasanya memang masalah didepan saya udah nggak sanggup lagi saya hadapi. Saya lebih memilih menjauh dari masalah dan hasilnya gila sendiri. I got nothing to do!!!!!
Pertama, masalah dengan dia. Saya tau saya egois. Tapi saya dari awal tidak bermaksud untuk cari-cari masalah. Saya egois, biarlah itu urusan saya. Kalo gak senang silakan katakan. Saya malah senang. Bukan dengan menghindar pura-pura gak teradi apa-apa, tapi menjauh. Sampai sekarang juga saya gak tau salah saya dimana. Jadi, untuk apa saya minta maaf. Kalo saya salah, tanpa basa-basi saya akan minta maaf. Tapi kalo gak salah tapi saya minta maaf? Mustahil. Awak gitu orangnya.
jadi, kepada kamu, tolonglah mengalah untuk memulai duluan. Biar saya juga lega. My life isn't just about you, but you can ruined my life. Because....ah sudahlah. Dikasih taupun nantinya kamu bakalan pura-pura gak tau juga.
Kedua, IP saya semester ini turun. Untuk pertama kalinya setelah 4 semester yang saya lewati. Omagah! I'm totally depressed! Turun sikit emang, tapi ada satu hal yang bkin kesal. Mata kuliah yang nilainya terakhir keluar itu gak adil! Teman2 saya dari yang rajin sampe pemalas dapat A atau A-. Nah saya B+. Karena nilai itu IP saya jadi turun! Kesalnyaaaaaaaa :((((((
Ketiga, saya menurungkan tidak mengikuti buka puasa bersama dimanapun. Tapi keputusan ini yang masih bikin saya pusing tujuh keliling. Mood saya untuk datang itu bener-bener gak ada. Rusak! Cuma dikarenakan masalah saya yang pertama itu. Entahlah. Lagi-lagi saya menunjukkan keegoisan saya. Mungkin ini bukti bahwa dia sangat berpengaruh dalam hari-hari saya.
Entah apa yang bakal teradi dalam hidup saya untuk kedepannya atau beberapa menit lagi. Hahaha entahlah. Sendiri, kesepian. ramai-ramai, ganggu banget.
Senin, 04 Maret 2013
Siapa yang dapat mengerti hati ini?
Itulah pertanyaan yang bahkan bukanlah 'saya' jawabannya. Saya sendiri tidak yakin terhadap apa yang rasakan.
Dia. Dia yang memang bukan tipe saya. Dia memang bukan yang saya inginkan. Dia tidak saya cinta. Dia tidak saya paksakan. Dia tidak saya impikan. Dia yang selalu saya rindukan.
Sampai kapan saya membiarkan waktu berlalu hingga tak tau ujung. Sebegitu sabarnya kah saya? Saya tidak tau. Yang saya tau, hati saya begitu dekat dengannya dan hatinya begitu dekat pula dengan yang-lain-entah-siapa. Dunia itu adil. Adil tapi tidak indah.
Pernah saya terfikir bahwa saya membutuhkan seorang pasangan, namun saya pungkiri itu karena yang saya butuhkan adalah kenyamanan. Tidak semua orang dapat membuat saya nyaman. Tertawa saya dapat lepas, tetapi sangat tidak bisa dipaksakan. Senyum saya lebar, tapi tidak untuk diumbar. Saya akui saya tidak mudah didekati oleh siapa saja. Pertanda bahwa orang yang bikin saya nyaman adalah seorang yang menempati posisi yang khusus di hati saya.
Mungkin memang ia saya menyukainya, hanya saja saya takut ada yang tidak dewasa antar saya atupun dia jika salah satu diantara kami tidak mendapatkan apa yang kami inginkan. Haruskah saya saja yang bersikap dewasa? Hmm saya dapat melakukannya dengan perasaan yang senang dan hati yang terluka.
..Sepertinya memang saya yang harus dewasa dan terluka, beberapa jam yang lalu saya masih menunggu balasan dari chat di dan kecewa. Mungkin orang dewasa dianggap selalu siap untuk mendapatkan kecewa..
Mereka dan Shinhwa
Hahahahahahahaha
biarkan saya ketawa dulu sebelum posting tentang hal ini, pertanda bahwa postingan ini akan bersifat bodoh dan konyol. ya memang begitu kenyataannya. yang pasti juga sesuatu yang saya sukai dan cintai :p
udah pernah belum saya memberi tahu tentang enam orang yang selalu bersama di kampus diawal semester dan sampai sekarang masih terus bersama dan untuk selamanya akan terus bersama. itulah kami. aku dan mereka. kita.
udah pernah belum saya menberu tahu bahwa saya sudah beberapa bulan ini menyukai sebuah grup musik (yang sayangnya bersal dari korea). nah, grup ini bukan sembarang grup. sebut saja namanya Shinhwa. Shinhwa udah berdiri sejak 1998 (walaupun lebih lama kecap Bango). grup ini berjumlah enam orang cowok-cowok yang bisa dibilang udah berumur dibanding member-member grup yang lainnya. Shinhwa changjo, itulah julukan saya. muahaha
mungkin saya terkesan konyol, tapi saya sedikit senang mengakui bahwa enam adalah angka keberuntungan, kebersamaan, dan kekompakan. saya percaya itu.
kunci dari sebuah kebersamaan antara kami dan shinhwa sepertinya sama, saling mengerti satu sama lain. sangking mengertinya hingga tidak ada batas antara satu dengal yang lainnya. dar situlah timbul kedekatan-kedekatan yang menciptakan sebuah hubungan yang khusus. ah lebay deh nyun. iyeeee gue lebaaaayyy....
gak tau lagi mau nulis apa. upload foto aja kali ya biar seru.
mungkin saya terkesan konyol, tapi saya sedikit senang mengakui bahwa enam adalah angka keberuntungan, kebersamaan, dan kekompakan. saya percaya itu.
kunci dari sebuah kebersamaan antara kami dan shinhwa sepertinya sama, saling mengerti satu sama lain. sangking mengertinya hingga tidak ada batas antara satu dengal yang lainnya. dar situlah timbul kedekatan-kedekatan yang menciptakan sebuah hubungan yang khusus. ah lebay deh nyun. iyeeee gue lebaaaayyy....
gak tau lagi mau nulis apa. upload foto aja kali ya biar seru.
Senin, 31 Desember 2012
Hati Kecil
Sudah lama rasanya tidak berbicara tentang cinta. Karena selama itulah saya menyangkal tidak membutuhkan seorang kekasih. Semua itu sirna setelah tadi sore saya menonton film Habibie dan Ainun. Hmmmm (saya gak tau harus malu atau gimana)
Namun keindahan dari menjalin hubungan dalah saling mencintai, saling merasakan dan saling menyemangati.
Mungkin saya harus berdamai dengan waktu dan dia-entah-siapa.
Mulai Bersyukur
Disetiap akhir tahun saya selalu membuat resolusi dan harapan-harapan saya untuk tahun berikutnya. Karena mungkin itulah tradisi yang telah berkembang tanpa diketahui alasannya.
Namun, kali ini saya menyesali itu.
Akhir 20110 dibawah dentuman kembang api yang nyala, saya menulis harapan terbesar saya di blog ini yang intinya adalah agar oom saya dapat sembuh. Sebelumnya saya telah bodoh memilih merayakan tradisi tahun baru ngumpul-ngumpul bareng temen2 SMA. Pada saat yang bersamaan pula di rumah oom saya, keluarga besar ngumpul disana. Jarak antara rumah teman saya dengan rumah om itu sangat dekat, karena itulah sekitar pukul setengah 1 saya menuju rumah om. Saya berharap keluarga masih diluar dengan segala kehebohannya, namun ternyata saya hanya mendapati sisa potongan-porongan ayam bakar dan oom yang bergegas masuk rumah setelah kembang api habis dinyalakan. Begitulah kenyataan pahitnya.
Januari 14, ada kenyataan yang lebih pahit lagi. Beliau sudah dipanggal oleh Allah dan kami harus mengikhlaskannya. Ikhlas. Itulah kewajiban kami.
Andai saya tidak membuat harapan besar itu, mungkin pada hari akhir beliau tidak ada penyesalan bagi saya. Tidak ada keinginan-keinginan bodoh dengan menganggap semua itu hanya mimpi. Mungkin saya akan sekuat mama, yang sangat tampak ikhlas walaupun beliau adalah sosok yang sangat berjasa demi kesembuhan om. Karena apa mama kuat? Karena mama lebih sering bersyukur daripada berharap yang akan lebih mendatangkan penyesalan nantinya. Dengan bersyukur akan membuat hidup lebih ikhlas.
Sudah cukup rasanya untuk menomorduakan keluarga demi keeksisan di kalangan teman-teman. Hidup saya bertujuan untuk membahagiakan diri saya, keluarga dan teman. Itu merupakan urutan yang tepat.
Tahun 2012 biasa saja bagi saya. Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadilah yang membuat saya harus lebih banyak bersyukur atas apa yang ada dalam genggaman saya, tanpa harus menjangkau yang jauh dari jangkauan.
Hiduplah dengan rasa syukur tanpa perlu menjadi rakus dengan merampas segala yang telah ada digenggaman.
Malam ini rumah saya sangat damai dan tentram, saya tidak akan iri dengan keadaan diluar yan hiruk-pikuk akan euforia tahun baru itu. Karena inilah kebahagiaan saya. Bermain bersama ponakan-ponakan lucu dan tadi baru saja menerima jagung dan ayam bakar dari tetangga. Saya suka makanannya! Terimakasih.
Jumat, 23 November 2012
Sedikit Cerita Tentang Hidup Saya
Jumat, 23 November 2012. Didalam kelas, mata kuliah Studi Masyarakat Melayu.
Dosen masuk ke kelas sekitar puku 10.30
dosen: hari ini saya tidak bisa masuk lama. karena bapak...alimin..siregar......meninggal dunia... jadi nanti mau melayat
saya: INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROJI'UUN
gimana saya gak kaget dan gak percaya, saya sudah lama tidak mendengar kabar beliau, sekalinya ada kabar namun berisi duka
dulu, saat saya semester 1, saya ngambil mata kuliah dasar-dasar politik dengan beliau, DR. Alimin Siregar. pertemuan pertama, suasana kelas sangat tegang, padahal ini baru kontrak kuliah. namun dari cara beliau menjelaskan, berbicara, berpendapat, sudah bisa disimpulkan bahwa beliau orang yang serius, idealis dan sangat blak-blakan. dia orang yang santai menyampaikan unek-unek akan tugas mahasiswa yang copy paste (dan menganjurkan tiap pertemuan ada tugas membuat jurnal dan tidak boleh ada yang protes), kritik tentang fakultas yang kaya tapi menganggap jurnal online mahal dan mengkritik sistem yang menurutnya salah, dan tentang apa saja.
namun yang paling menarik adalah ketika dia menekankan mahasiswa untuk banyak membaca dan menulis. disaat dia bertanya, "ada yang bawa buku tidak? buku apa saja, terserah." saya diam saja karena menurut saya pasti ada yang akan memberikannya dan tidak berniat untuk mengeluarkan buku novel yang ada didalam tas saya. setelah agak lama dan tidak ada tanda-tanda ada mahasiswa yang memenuhi permintaan bapak itu, saya akhirnya mengeluarkan buku saya dan memberikan buku itu padanya, alasan saya sangat kuat karena ingin mengetahui apa yang akan dilakukan bapak itu dengan sebuah buku. hipotesa yang saya miliki adalah beliau akan mengetahui isi cerita buku saya itu tanpa harus dibaca dengan waktu yang lama. ternyata tidak. tapi beliau menjelaskan bagaimana cara penulisan daftar pustaka yang benar dan buku saya dijadikan contoh -__-" namun beliau juga membahas tata cara penulisan yang benar. disaat dia masih memegang buku saya, dia bertanya, "kamu berapa hari menyelesaikan ini? saya 1 jam (saya lupa bapak itu jawab berapa lama, yang jelas lebih cepat dari rekor saya membaca novel yang setebal buku itu sekitar 3 jam). berapa lama?" saya jawab sambil cengengesan, "2 atau 3 hari, pak, tergantung waktu luang."
saya percaya, secara bacaan beliau pasti jurnal-jurnal, tesis, buku2 idealisme. dan setelah itu dia menjelaskan sistem kuliah yang mengharuskan tiap pertemuan membuat paper (menurut saya itu bisa disebut jurnal mini) dan tidak boleh plagiat. dia sangat mencaci yang namanya plagiat. "saya akan tau mana yang mengambil dari internet dan tanpa memberi sumber." tidak ada satupun mahasiswa yang berbicara ataupun berbisik, namun semuanya mempunyai ekspresi yang sama, yang tidak bisa dijelaskan.
minggu depannya, terdapat 10 orang mahasiswa dikelas yang sama pada minggu lalu yang berjumlah 20an orang. banyak mahasiswa yang pindah kelas termasuk saya dan lima teman saya.
maafkan kami, pak. mahasiswa yang tidak bisa menerima perubahan. mahasiswa yang tidak serius menjalankan tugasnya sebagai agent of change. orang seperti bapak lah yang akan membenarkan segala sistem yang telah rusak di negara ini. namun kami mahasiswa hanya berfikir untuk kesenangan semata.
semenjak semester satu itu, saya sudah jarang bahkan mungkin hanya dua atau tiga kali melihatnya dikampus, hanya sambil lalu. dan sekarang saya sudah semester tiga, jangankan diajar olehnya, kesempatan untuk melihatnya pun sudah tidak ada. Saya berdoa surga dan kedamaian untuknya disamping Allah.
Suasana dikelas tidak terlalu heboh karena memang mungkin tidak pernah diajar oleh bapak itu, karena beliau dosen HI. saya dan teman2 masih agak kaget tidak percaya. saya merinding denga cukup lama.
ulul: baru tadi malam papa aku jenguk bapak itu
saya: sakit apa lul?
ulul: dia cuci darah
saya: (gak bisa berkata-kata dan makin merinding antara sedih, sesal, dan pengen nangis, karena saya sudah bisa menebak sakitnya)
ulul: haa gagal ginjal
dan saya hanya diam selama dikelas dan berusaha mengingat momen tentang dia, walaupun itu susah, karena baru sekali ia berbicara langsung didepan saya.
mungkin orang yang sangat bisa diandalkan, yang sangat berpengaruh bagi hidup banyak orang itu Allah memberikan umur yang singkat agar bisa lama menikmati surga-Nya.
Om, oom dapet teman tuh yang sama-sama dibilang gula dan gagal ginjal sama dokter. padahal itu sih memang takdir ya kan. memanglah manusia..
tapi, pak alimin lebih muda dari oom, keliatannya sih oom yang muda hehehe beneran
besok2 deh saya masukin foto kalian berdua.
buat oom: om, ni rinduuuuuuuuuuu :)
buat pak alimin: selamat menempuh hidup yang sesungguhnya pak. semoga tenang dan damai disisi-Nya. maaf pak, sampai sekarang, saya masih belum menamatkan buku yang pernah bapak pinjam itu hehehe lucu, saya juga gak tau kenapa.
Kamis, 15 November 2012
Andai Diam Menjadi Kediaman
Anda Diam Menjadi Kediaman
Diam..
Waktu selalu mengajarkanku bersabar
Bersabar untuk menyelesaikan sisa-sisa hidup
Berdiam diri adalah cara bagaimana aku menenangkan diri dan berdamai dengan kenyataan
Tapi seringnya hanya memupuk emosi dan melupakan permasalahan
Pernah kukatakan bahwa diamku adalah senjataku menahan emosi marahku terhadap apa saja
Karena menurutku diam lebih baik daripada meluapkan melalui kata-kata
Dengan diamku, maka dibutuhkan insting kedekatan seseorang agar lebih mengerti tanpa harus disampaikan
Andai di depan diam ditambah awalan ke- dan akhiran -an
Kediaman..
Tempat yang memiliki kehangatan tertentu
yang didalamnya terdapat keluarga, penuh dengan kasih sayang dan pada akhirnya adalah tempat yang nyaman bagi kita
Diam tidak akan bisa senyaman kediaman
Diam hanya penuh dengan tumpukan emosi yang tak tersampaikan
Diamku adalah pikiran bagimu
Diamku adalah masalah bagimu
tak akan pernah diamku menjadi hal yang nyaman bagi siapa saja
Diamku bukanlah kediaman
Diamku adalah rambu-rambu bahaya bagimu
Diamku adalah maafmu
Diamku adalah kamu yang mengobatinya
Karena diamku adalah sakitku
Jangan pernah membuatku diam terlalu lama
Membuat diam berubaha menjadi benci
Langganan:
Komentar (Atom)