Lama tak posting ye. Huh! Saye sibuk sangatlah. Tak ade waktu untuk posting. Minggu lewat saye bepantun besame kelompok disekolah. Dua hari lewat saya bedrama dapat peran ibuk pencari ranting pohon (walopun makeup nya macam gembel a.k.a orang gile lah). Alhasil, saye jadi becakap melayu pule sekarang. Tak lah. Penat sangatlah lidah saye.
EHEM.. EHEM.. #benerinKerah #pasangKuda2
Baiklah. Itu semua hanya intermezzo basi.
Akhir2 ini keadaan kelas benar2 tidak seperti apa yang kita (read: anak muda gaul dan galau) harapkan.
Rebo: ambil nilai drama (lat ga nyampe seminggu.
Kamis: ulangan matem matriks 20 soal. ESSAI! Waktu 90menit. So, 1 soal ga nyampe 5menit *kalem*. Habis gelap, terbitlah gemerlap. Ulangan fisika pun menanti. Tidak ada waktu untuk bernafas.
Jumat: ulangan biologi subs genetika. Alhamdulillah saya mampu menjawab tidak lebih dari 15 soal dari 30 soal.
Ya! Hari ini hari Jumat. Tapi, pada hari
Sabtu: ulangan kimia unsur menanti untuk dijabanin.
Tidak ada waktu untuk bernafas. Apalagi melakukan hal yang tidak penting. Tapi mengapa masih ada yang sempat untuk melakukannya. Itulah yang dinamakan 'Melakukan Kebodohan Dalam Kesempitan'. Dalam hal ini terdapat dua kubu. Maafkan saya jika saya tidak memihak a.k.a golput karena tidak ada yang melakukan penghitungan suara. Tapi saya hanya dapat berkomentar atau lebih condong untuk memberi saran. Jangan seenak jidatmu bapakmu ibumu kamu menilai kenegatifan seseorang tanpa diminta oleh orang itu sendiri. Bukankah kita ini manusia? (kamu juga, kan?). Bukan karena anak IPA bahwa kita tau manusia itu mempunyai hati. Tapi karena kita sendiri dari awal kita pernah sakit, perih yang pernah dirasakan. Dan salah jika dengan bentakan atau omongan yang kasar kita menghakimi manusia. Dan salah juga dengan cara berbicara halus atau lembut tapi dengan kata yang kasar. Dan poin kedua lebih menyakitkan. Tapi tidak akan menyakitkan jika itu tdk dilakukan.
Perlukah emosi itu? Ada sebuah quote yang sangat saya sukai oleh Claire Rayne. Ia mengatkan "Emosi itu tanda kelemahan. Jadi kamu harus tenang." Siapa sih yang tidak setuju? Saya Sangat Setuju Sekali, Sayang. Mengapa? Bukankah saat orang emosi ia kelihatan lebih berani, gagah? Bukankah itu kuat? Ya. Sangat kuat. Sangat berani. Tapi itu secara fisik yang kita lihat. Tapi mereka lemah secara jiwa. Amat teramat lemah. Mereka tidak dapat mengendalikan jiwa. Tidak mampu melawan godaan2 atau support dari setan. Jiwa yang lemah selalu menjadi korban. Dan itulah mengapa Islam mengajarkan untuk berwudhu' jika sedang emosi agar menjadi tenang dan sabar dan menjadi manusia yang kuat.
Jadi, saya tidak keberatan untuk selalu menyediakan ember untukmu berwudhu' , teman. Karna menurut saya, emosi kamu selalu setia setiap saat bagaikan Rexona, teman.
Saya juga tidak selalu dapat menjaga emosi. Namun, saya tau cara meluapkan emosi tanpa merugikan orang lain. Setetes, dua tetes, tiga tetes hingga beribu-ribu tetes saya biarkan mengalir. Dari tetes-tetesan yang saya buang itulah emosi saya meluap. Emosi yang berubah menjadi air. #ngelapAirMata #lohEmosiNyun
*kecup manis dari gadis manis*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar