take what happened as a lesson

Kamis, 05 Juli 2012

The Consistency and The Consequences

Bolehkah di post kali ini saya sedikit menggurui? Kita semua tau bahwa gak ada orang di dunia ini yang sempurna. Dan saya adalah orang. Maka saya tidak sempurna. (malah nge-daslog -___-) Di dalam hidup ini, kita selalu dihadapkan dengan banyak pilihan. Pilihan yang kita belum tau itu menguntungkan kita atau tidak. Pilihan yang kita anggap baik bagi kita atau pun sebaliknya. Menurut kita, kitalah yang mengetahui siapa diri kita dan apa yang dibutuhkan oleh diri kita. Begitulah. Pada kenyataannya, kita menilai diri kita secara subjektif. Kita selalu menganggap bahwa pilihan yang harus kita ambil adalah pilihan yang mana yang terbaik buat diri kita sendiri, bukan buat orang di sekitar kita. Hedaklah mengambil sebuah pilihan itu secara objekif dengan memikirkan setiap apapun yang nantinya akan berpengaruh dalam pilihan tersebut. Oke, saya beri contoh kecil. Contoh: Soal: Ani sudah lulus SMA. Ia sedang dilanda dilema hendak masuk jurusan apa. Pilihan jurusan ada banyak. Orangtuanya memberinya kebebasan dalam hal ini. Solusi: Walaupun orangtua Ani memberi kebebasan dalam memilih jurusan, mengingat karena Ani telah dewasa, dengan begitu Ani tidak boleh ambil enteng dengan tidak memikirkan masa depannya dengan jelas. Masa depan Ani juga masih dalam tanggungjawab orangtuanya. Ani harus memilih jurusan yang diyakininya akan sanggup dijalaninya dengan kemampuannya dan membuat dirinya menonjol sehingga idak membuat orangtuanya ragu padanya. itulah konsistensi dirinya yang harus ditunjukkannya pada orangtuanya. Konsistensi. Berbicara soal pilihan disitulah terdapat istilah "konsistensi" dan "konsekuensi". Dimana setia pilihan ada pastiada resiko, yang pada akhirnya konsistensi kita diuji :) Jika kita menjalankan dengan setengah hati pilihan telah kita putuskan dan lebih parahnya menjalankan secara tidak langsung pilihan yang lain karena faktor-faktor tententu, maka pada saat itulah kamu telah membuang-buang kesempatan untuk sebuah kesempurnaan. Gak ada yang sempurna, tapi seolah sempurna itu ada :) Setidaknya, jangan menjadi untuk jauh dari sempurna. Contoh dalam hal ini adalah JENG JENG JENG...... contohnya sangat sensitif, dan saya juga terkadang masih melakukannya. Yaitu penggunaan jilbab :) Saya ingin sekali untuk menjadi orang yang malu besar jika tidak menggunakan jilbab ke luar rumah. Tapi seperinya masih jauh hahaha karena faktor malas selalu datang. Dengan menghidari inkonsistensi yang berlanjut, itulah mengapa saya memilih untuk tidak mengikuti aktivitas yang membuat saya akan malas untuk mengenakannya. Terutama jika kegiatan tersebut bukan bersama keluarga dekat.Lebih baik saya tidak mengikutinya daripada memikirkan solusinya hahahaha Jadi prinsip yang saya gini aja, bukan bermaksud menggurui namun ini hanya pendapat pribadi. Kita tidak akan pernah bisa berjalan secara bersamaan di dua jalan yang berbeda. Jika kita melakukannya secara bergantian, maka kita telah membuang-buang waktu dan kesempatan dari setiap pilihan. Orang yang baik adalah orang yang walaupun berjalan dipilihan yang salah namun tetap dihadapinya dengan segala resiko dan pastinya ada solusi. Orang yang merugi adalah orang yang memilih pilihan yang tepat namun lemah dalam menghadapi resiko (eh, apakah berjilbab ada resikonya?:D) dan tidak konsisten dalam pilihannya. No offense for all people who read this. Karena pada dasarnya saya hanya berpendapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar