take what happened as a lesson

Jumat, 13 Januari 2012

Firasat

Apakah firasat itu selalu berujung kabar buruk?
Apakah sebelum mendapat kabar buruk saya harus mendapat firasat?

13 Januari 2012
Pukul 10 malam.
Kakak saya nelpon.
"Yun, oom sakit apa? Melemah gimana?"
"Gak tau ni kak. Belum dpt kabar."
"Om gadang disuruh pesan tiket ke pku sama mama utk besok."
(berawal dari sini perasaan udah gak enak. Karna barusan mama sms adek berisi gini: "mama gak boleh pulang dg oom. Dia gelisah.")
Percakapan dg kak mita terputus krn pulsanya habis, dan berlanjut ke ym. Tapi kami gak tau mau bahas apa krn memang gak ada yg bisa dan dimengerti untuk dibahas. Mungkin diantara kami saat itu saling melontarkan doa dan berpikir positif.

Karena firasat yg gak enak itu pula, saya gak bisa dan menolak untuk mengobrol di Ym dg teman saya Uci.

Dari mulai saat itu pikiran saya entah kemana. Online gak jelas, ngetwit gak jelas.

Pukul 1 dinihari.
Laptop udah mati. Tapi pikiran gak jelas masih belum berhenti.
Anehnya, didalam pikiran saya selalu mendoakan oom dan mama saya. Selalu. Berulang-ulang. Hingga saya tertidur pukul 3 dinihari.

Satu hal yang saya sesali, kenapa pada saat itu saya tidak berwudhu dan melakukan solat tahajud.

Pukul 4.30 subuh.
"Yun..yun.. Oom udah gak ada.." kakak saudara saya masuk ke kamar sambil nangis.
"Ha?! Iya kak? Jam berapa?" pertanyaan gak penting dan gak jelas itu terucap karna saya gak tau mau ngomong apa.
Apa yang bisa saya lakukan? Gak ada. Apa saya bisa merubah keadaan? Gak bisa.
Masih belum percaya.

Pukul 6 pagi. Di rumah om saya.
Dengan jelas saya melihat, seorang bapak yang kepalanya terikat sebuah tali putih, dengan mata tertutup. Mungkin hanya 3 detik saya sanggup melihatnya dan kemudian memalingkan muka. Bukan membencinya, tapi karna sangking cintanya.

Dan sampai saat ini airmata saya masih mengalir. Disebuah kamar yang terdapat tabung oksigen. Tabung oksigen itu membuat saya berpikir bahwa, ini bukanlah kabar buruk. Ini kabar bahagia, inilah saat2 yg diinginkan beliau. Damai, tentram, kembali sehat. Inilah satu2nya cara yang menyembuhkannya. Inilah jalan yang dipilihnya. Kami semua harus bisa menerimanya. Allah menyayangimu, Om.

Om, terimakasih atas segala kebaikanmu.
Terimakasih atas perjuanganmu untuk sembuh.
Terimakasih telah menjadi abang yang baik untuk Mama.
Terimakasih untuk semuanya.

Pergi yang tenang, Om. Ikhlas. Semoga saat penguburan nanti kami bisa sangat ikhlas melihatmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar